Selasa, 03 Desember 2013
Senin, 02 Desember 2013
Kisah : Oleh-oleh dari Surga
Saya
ingin berbagi sedikit cerita sahabat kecil saya, Isti.
Tadi
malam saya dan suami saya , Chris, berkunjung ke rumah sahabat kami, Titin. Kami asyik
berbincang dengan anak perempuannya, Isti, 6 tahun, kelas satu SD. Isti adalah
adik Karel, anak muda yang memiliki suara emas. Karel yang sejak TK hingga saat
ini kelas 3 SMP punya cita-cita jadi KOKI.
Oma
Isti bercerita tentang sejarah kelahiran anak-anaknya. Mama dari Isti dan
Karel. “Mamanya Karel dan Isti diberi
nama Elisabeth Christin (Titin), karena saat
Titin lahir, nenek suami saya, Elisabeth, meninggal dunia. Sebelum
meninggal dunia, dia selalu menanyakan kapan
saya melahirkan, sambil mengelus perut saya. Kami semua kesal karena
hampir setiap saat dia bertanya. Nah, menurut kepercayaan orang Sumba, itu
pertanda dia minta namanya digantikan oleh sang tamu yang baru lahir. Jadilah
namanya Elisabeth”.
“Kalau
saya, Oma?” Tanya Isti.
“Kalau
Isti, Christyelda Karunia Kiha, nama Christy itu nama Mamamu. Elda itu nama
Papamu, Daniel’.
“Kalau
Karunia, karena dia lahir setelah Papanya meninggal”, ujar suami saya.
“Iya,
betul. Karena saat Papanya Isti meninggal, mamanya sedang hamil Isti 2 bulan”
cerita Oma. Jadi dia dianggap karunia oleh keluarga.
“Hmmm…..saya
tahu kenapa nama saya Karunia” kata Isti.
“Kenapa”
kami berempat serempak bertanya.
“
Mungkin saya oleh-oleh dari surga untuk Mama.” Kami semua diam beberapa saat.
“Oleh-oleh
dari surga?” saya bertanya.
“Iya
Tante Martha sayang. Mama khan sudah punya anak laki-laki, Karel. Lalu Tuhan
pikir-pikir untuk kasih oleh-oleh pada Mama anak perempuan.
Supaya Mama senang”. Isti menjelaskan pada kami.
Oma
memeluk Isti. Kami bergantian
merangkulnya.
22 Desember 2011
22 Desember 2011
Sakit Jiwaku
Merdekakanlah jiwamu untuk mimpi yang pernah
kita proklamirkan
Lepaslah tali-tali sandera yang kau pasung, seperti melepas merpati dan balon di ulang tahun negri kita
Kekuasaan itu adalah kemerdekaan jiwa, kelegaan raga
Kekuasaan seperti kecintaanmu pada setangkai bunga, yang kau sirami tak henti, kau petik dia dan bertahta di meja makan malam kita
Kekuasaan itu bukanlah sekerat daging yang kau jajakan
bukanlah menjajah kesepian dan merajai ketakutan
Tanah ini tidak boleh bertabur benihmu
Angin di negeriku cukuplah sudah kau hembuskan kecubung
Kesumatku akan melumat jiwamu, biar merdeka
Kesumatku menyala, kawan
Lepaslah tali-tali sandera yang kau pasung, seperti melepas merpati dan balon di ulang tahun negri kita
Kekuasaan itu adalah kemerdekaan jiwa, kelegaan raga
Kekuasaan seperti kecintaanmu pada setangkai bunga, yang kau sirami tak henti, kau petik dia dan bertahta di meja makan malam kita
Kekuasaan itu bukanlah sekerat daging yang kau jajakan
bukanlah menjajah kesepian dan merajai ketakutan
Tanah ini tidak boleh bertabur benihmu
Angin di negeriku cukuplah sudah kau hembuskan kecubung
Kesumatku akan melumat jiwamu, biar merdeka
Kesumatku menyala, kawan
Tambolaka, 16 Agust 2012
lelaki yang tak pernah berubah
Sore ini saya menemukan seutas benang di tepi
jendela....benang berwarna kuning yang melambai-lambai tercabut dari helai
baju lelaki itu. Warnanya tetap kuning seperti belasan tahun waktu
pertama menjumpainya juga di tepi jendela itu. Seperti belasan tahun lalu, selalu menikmatinya
tatonya.
Lelaki itu tak pernah berubah.
Saya tetap selalu mengenalnya entah di mana pun dia.
Lelaki itu bertato bunga. Dia berbau bunga. Lelaki yang memang tak pernah
berubah..........ah saya tidak mengumpatmu, lelaki bertato bunga.
huahuahauahauahahauuuuuh....lelaki yang tak pernah berubah.
Aha...bukan, dia tidak bertato bunga, dia ternyata
bunga, dia taman bunga! Dia yang selalu dikunjungi kupu-kupu dan lebah...ah
lelaki yang tak pernah berubah.....menengoklah sedikit di timur, pohon tua itu,
di tepi tamanmu.
Bukankah setangkai mawar merah telah meliliti tamanmu?
Setangkai mawar merah menawan, dia begitu merah dan membuatmu jadi taman bunga
indah. Lelaki yang tak pernah berubah, mawar merah itu telah memasuki
keabdiannya. Mawar merah itu adalah keabadiannya. Lelaki yang tak pernah
berubah.....mawar merah telah menggenapi keindahannya. Dia tak perlu
kupu-kupu dan lebah untuk menjadi taman yang sempurna, dia hanya butuh
setangkai mawar merah.
Lelaki yang tak pernah berubah mengulurkan tangannya
memetik sang mawar. Berteriak sang mawar kepada lelaki yang tak pernah berubah
"Aku adalah keabadian taman ini, aku adalah taman ini. Tidakkah kau lihat
merahku adalah darahku yang mengaliri taman ini?" Lelaki yang tak pernah
berubah itu terpekur. Angin meniup helai rambutnya yang mulai memutih.Dia
mengecup mawar merah itu. Tiba-tiba, dia melihat dirinya sudah menjadi duri
setangkai mawar merah itu.Menggenapi keindahan sang mawar. Aha...saya tetap
mengenalnya. Saya memetik mawar merah itu. Saya meletakkan di pangkuan lelaki
yang tak pernah berubah itu....."Berikan mawar merah ini pada mawar
merahmu!".
Lelaki itu tersenyum. Saya tak pernah lagi memanggilnya lelaki
yang tak pernah berubah.
Waingapu 20 Juni 2011
Top
of Form
Senin, 31 Januari 2011
In memoriam: Andi Murni Ismail
aku jatuh cinta pada hati indahmu
hati yang tersenyum untuk semua orang
hati yang meredakan kegelisahan
aku jatuh cinta pada benih yang telah kau tabur
sekarang kami telah menuainya
aku jatuh cinta pada rahimmu
yang telah melahirkan keindahan tiada taranya
pada rahimmu yang mengucurkan keajaiban
mendekatlah kawan
kusematkan mawar merah di dadamu
makassar 26 januari 2011
Sabtu, 01 Januari 2011
Jumat, 10 Desember 2010
Tentang Sebuah Janji
Kau
20 tahun silam saat tangan-tangan kekarmu melambai
Memanggil-manggilku
Maaf, aku cuma terpekur diam
Kala itu sayapku baru bertunas dan kakiku tertatih-tatih
Tak kuhiraukan mata indahmu yang bergelora
10 tahun silam, kau kembali mengitari persembunyiaanku
Aku mengenali langkah ringanmu
Ah matamu yang penuh cinta itu….tersenyum menggenggam tanganku
Maaf, waktu itu aku baru menenun sayapku
Baru belajar mengepakkan sayapku
Dari dahan ke ranting…
Waktu itu aku baru belajar melumasi jemariku
Sssstttt …tidak…tidak.. aku tak ingin melihat lagi telaga bening
di matamu
Seperti dulu biarkan kelopak matamu mengerjap dan menari-nari
kerinduan kita di sana
Seperti dulu biarkan bola matamu menyanyikan mimpi-mimpi kita
Aku akan menyulam sayap-sayap patahmu
Aku akan menjahit luka-lukamu
Aku akan menyegarkan dahagamu dengan gemercik cinta yang telah
bertahun-tahun kusemai….
Kulumasi sayapmu
Lalu kita terbang menembus batas, menembus mimpi
Menerobos padang hijau tempat kita menabur benih
Dan kubersekutu denganmu
Mari mendekatlah
Biarkan aku benahi rambut kusutmu yang mulai memutih
Hhmmmmm ijinkanku mengecup sehelai uban yang melekat di keningmu
Pangeranku Tana Humba
Selamat ulang tahun Sumba
Timur
Langganan:
Postingan (Atom)