Mari kita duduk di tepi senja ini
Biar dadamu tak membusung dulu
Biar langkahmu tak menghentak laju
Mari, mari mendekatlah
Kau lihat luka di kampungmu?
Kau dengar gelak tawa dan litani tak bertepi?
Kau terkejut Ibumu dimangsa jahanam?
Kau dapati butir-butir tanah itu berselimutkan darah?
Kau masih mau bergumam, "Ah nanti ada yang urus"
Kau hanya tersenyum dan bilang pada Tuhan,"Sembuhkan tanahku, ya Tuhan"
Pulanglah, Dinda
Pulanglah menenun luka kampung kita
Biar hinggi dan lawu kita sematkan di dada Ibu
Pulanglah, Dinda
Pulanglah dengan peluhmu berbau harum
Kau basuh wajah Ibumu yang terhimpit riuh burung nasar
Pulanglah, Dinda
Pulanglah ke surgamu
Ke dada Ibumu
Untuk adinda mahasiswa Sumba di Yogyakarta yang hatinya selalu merindu Sumba.
Terima kasih untuk semangat tak berbatas dalam SImposium Sumba
Yogyakarta, 27-28 Oktober 2018
Selasa, 30 Oktober 2018
Jumat, 06 Januari 2017
Selasa, 09 Agustus 2016
Surat dari Sumba buat Pak Menteri Muhadjir
Salam hangat dari Sumba, Pak Menteri.
Pagi ini saya berbincang dengan anak saya, Holi, 9 tahun yang duduk di kelas 4 SD. Dia sedang gembira sekali. Tadi malam kambingnya baru terjual dengan harga Rp. 1,500,000. Dia menyampaikan rencananya untuk membeli kambing kecil lagi, membeli ban sepeda, tas baru dan sepatu baru untuk dirinya dan adiknya. Wajahnya berbinar binar.
Pak Menteri, saya melakukan kesalahan. Saat bahagianya, saya beritahu padanya bahwa akan ada kebijakan baru dari Menteri Pendidikan tentang sekolah sehari penuh.
"Artinya apa, Mama? Kita hanya di dalam kelas, tidak keluar main?"
"Maksudnya, anak anak pergi pagi ke sekolah, ada keluar main (jam istirahat), tapi pulang sekolah sore".
"Aiii saya tidak mau sekolah lagi. Saya di rumah saja"
"Kenapa Holi?"
"Saya rencana mau beli kambing lagi. Siapa yang urus saya punya kambing? Siapa yang urus saya punya ayam, itik, sayur?"
"Peraturannya belum jadi, nanti Mama kasih tahu Pak Menteri agar keluar sekolah seperti biasa saja, siang."
"Artinya apa, Mama? Kita hanya di dalam kelas, tidak keluar main?"
"Maksudnya, anak anak pergi pagi ke sekolah, ada keluar main (jam istirahat), tapi pulang sekolah sore".
"Aiii saya tidak mau sekolah lagi. Saya di rumah saja"
"Kenapa Holi?"
"Saya rencana mau beli kambing lagi. Siapa yang urus saya punya kambing? Siapa yang urus saya punya ayam, itik, sayur?"
"Peraturannya belum jadi, nanti Mama kasih tahu Pak Menteri agar keluar sekolah seperti biasa saja, siang."
Anak saya pun berkemas ke sekolah. Dia bilang, mau tanya teman temannya, apakah mereka setuju atau tidak jika pulang sekolah di sore hari.
Pak Menteri yang budiman,
Anak saya hanya salah satu dari ribuan, jutaan anak desa di Indonesia yang sedang bersekolah. Bapak coba bayangkan, kebiasaan mereka menggembalakan kambing, kerbau, kuda, sapi. Ada juga yang mengurus ternak kecil seperti ayam, bebek, itik, babi. Kegembiraan berkebun... Semuanya harus terhentikan hanya karena niat baik Bapak untuk menciptakan generasi yang hebat dan mandiri.
Anak saya hanya salah satu dari ribuan, jutaan anak desa di Indonesia yang sedang bersekolah. Bapak coba bayangkan, kebiasaan mereka menggembalakan kambing, kerbau, kuda, sapi. Ada juga yang mengurus ternak kecil seperti ayam, bebek, itik, babi. Kegembiraan berkebun... Semuanya harus terhentikan hanya karena niat baik Bapak untuk menciptakan generasi yang hebat dan mandiri.
Bapak Menteri yang budiman,
Bagi kami orang desa, orang Sumba, anak-anak bisa belajar dari alam. Contoh kecil, jika kambing anak saya terlepas, dan Yefta, tetangganya tahu, maka Yefta akan menangkap kambing kemudian mengantarkan pulang ke rumah kami. Sebaliknya pun demikian. Seringkali mereka bergerombol ke tepi sungai mencari rumput untuk kambing mereka. Banyak hal yang mereka bincangkan. Keren Pak. Saya selalu dapat cerita dari mereka, bagaimana saling bertukar anak ayam, benih tanaman atau saling pinjam mainan.
Bagi kami orang desa, orang Sumba, anak-anak bisa belajar dari alam. Contoh kecil, jika kambing anak saya terlepas, dan Yefta, tetangganya tahu, maka Yefta akan menangkap kambing kemudian mengantarkan pulang ke rumah kami. Sebaliknya pun demikian. Seringkali mereka bergerombol ke tepi sungai mencari rumput untuk kambing mereka. Banyak hal yang mereka bincangkan. Keren Pak. Saya selalu dapat cerita dari mereka, bagaimana saling bertukar anak ayam, benih tanaman atau saling pinjam mainan.
Ah, Pak Menteri, nikmat sekali rasanya. Apakah Pak Menteri pernah punya pengalaman seperti ini?
Siang ini, saya ngobrol tentang full day school dengan anak kedua, Atu namanya, kelas 2 SD. Tentu saja dengan bahasa anak-anak.
"Mama, saya tidak mau sekolah lagi!. Kalau pulang sore, siapa yang urus saya punya kambing? Kalau saya punya kambing mati, pemerintah mau ganti? Asyik Pak Menteri tidak ada (punya) kambing."
"Iya, nanti Mama beritahu Pak Menteri"
"Tolong kasih tahu juga, saya dengan Holi mau pasiar ke rumahny Oma, pergi lihat kebun sayur. Kalau pulang sore, sampai di kebun pasti sudah gelap".
"Iya, nanti Mama beritahu Pak Menteri"
"Tolong kasih tahu juga, saya dengan Holi mau pasiar ke rumahny Oma, pergi lihat kebun sayur. Kalau pulang sore, sampai di kebun pasti sudah gelap".
Pak Menteri yang baik,
Jika punya waktu luang, datanglah ke tanah kami, Sumba. Bapak akan dapat kaca mata baru untuk memberi warna pendidikan di Indonesia. Di sini, ada anak sekolah yang mesti jalan kaki berkilo kilo meter melintasi sabana, karang tajam, semak belukar, hutan, sungai. Rasanya lebih adil jika Bapak datang dan rasakan. Pejamkan sejenak mata Bapak. Letakkan tangan kiri di dada, mari rasakan pendidikan orang desa.
Jika punya waktu luang, datanglah ke tanah kami, Sumba. Bapak akan dapat kaca mata baru untuk memberi warna pendidikan di Indonesia. Di sini, ada anak sekolah yang mesti jalan kaki berkilo kilo meter melintasi sabana, karang tajam, semak belukar, hutan, sungai. Rasanya lebih adil jika Bapak datang dan rasakan. Pejamkan sejenak mata Bapak. Letakkan tangan kiri di dada, mari rasakan pendidikan orang desa.
Ah masih ada lagi Pak Menteri, di Sumba, sore hari banyak anak harua membantu orang tua pergi timba air. Air bersih, air untuk minum, air untuk masak makanan.
Masih banyak cerita tentang anak desa Pak Menteri. Lebih asyik kalau live naaa. Pas Pak Menteri main-main ke Sumba.
Pak Menteri yang baik,
Pertimbangkan baik-baik rencana baik Bapak tentang full day school. Ah bayangkan kalau tiap hari Pak Menteri dapat surat curhat dari Mama Mama seluruh Indonesia. Kemudian, anak-anak pun ikut menulis surat, guru-guru pun, dan keluarga guru-guru. Apalagi kalau semua menelpon juga ke Hp Bapak. Wah pasti ramai ya Pak. Itu saja rasa hati saya Pak Menteri.
Pertimbangkan baik-baik rencana baik Bapak tentang full day school. Ah bayangkan kalau tiap hari Pak Menteri dapat surat curhat dari Mama Mama seluruh Indonesia. Kemudian, anak-anak pun ikut menulis surat, guru-guru pun, dan keluarga guru-guru. Apalagi kalau semua menelpon juga ke Hp Bapak. Wah pasti ramai ya Pak. Itu saja rasa hati saya Pak Menteri.
#PakMenteri, Holi punya cita-cita jadi Petani. Bayangkan kalau dia di sekolah sepanjang hari, dia tidak lagi punya waktu merawat cita-citanya lewat berkebun dan beternak.
Waingapu, 9 Agust 2016
Salam hormat
Martha Hebi
Mamanya Holi dan Atu
Martha Hebi
Mamanya Holi dan Atu
Jumat, 17 April 2015
Kado
Kado (1)
Aku ingin mengecup bisa di bibirmu
Agar kau tahu rasanya cinta
Kitabmu bermazmur tentang keagunganAyatmu menyebut mereka...mereka yang harus kau cinta
Aku telah mengecup bibirmu dan tetes bisa-mu
Ah....belum kau tahu rasanya cinta
Bulir-bulir itu seperti mata panah
Tak lelah menusuk sorai Bulir-bulir itu lembut seperti rambut bidadari
Meski terselip sebilah belati
Kado (pur na ma)
...seperti biji sesawikita perlu mati untuk berbuah
(selalu kita nyanyikan kegirangan hujan) (selalu kita nyanyikan kegirangan hujan)(selalu kita nyanyikan kegirangan hujan)
Kisah : Kenikmatan dengan Orang Muda
Bergaul dengan orang muda
membuat hidup ini seperti sampan yg mengajak gelombang laut untuk berdansa.
Adakala sampan melompati puncak ombak dan berayun di tebing ombak. Indah.
Seperti bermain ayunan di taman kanak-kanak. Sesekali ombak mengurung sampan di
balik temboknya dan menyuapinya secawan anggur pahit.
April 2015
Beberapa tahun silam, saat
itu handphone (Hp) belum terlalu populer di kalangan anak muda di Sumba. Masih
termasuk barang mewah. Biasanya jika hendak menelpon, anak muda punya sim card
yg bisa dipasangkan di Hp pinjaman. Atau meminjam Hp sekaligus sim card teman.
Sebagai "Kakak"
Hp saya sering dipinjam tentu sekaligus dengan sim card. Biasanya kata teman
muda saya, mau kabari teman bahwa tidak bisa bertemu sesuai rencana atau
mengabari orang tua bahwa pulang lambat dan beberapa alasan mendesak dimana
hati saya meleleh menatap wajah-wajah sendu ini.
Hingga suatu hari datang
satu SMS dari nomor tanpa nama "Kalau memang ko mau putus, kita putus
sudah too. Ko pikir kau terlalu hebat apa memang. Saya tunggu kau besok di
xxxx". Kira-kira begitu punyi pesan yg masuk. Bingunglah saya. Kemudian
saya mengecek di kotak pesan keluar, ah rupanya ada 2 pesan keluar yg berisi
percakapan minta putus hubungan cinta. Entah jempol siapa yg mengetiknya.
Saya penasaran, dan mulai
membaca kotak pesan keluar yg berisi 1000an SMS. Hahaha masih tersisa beberapa
SMS keluar yg bukan milik saya dan bukan ditujukan kepada teman ataupun orang
tua mereka. Tapi nama yg terdaftar dalam Hp saya. Misalnya "Bang Faisal,
apa kabar? Bagaimana situasi Manado?" Dan tujuan SMS itu untuk seorang
teman yg terdaftar dengan nama Faisal Manado.
Saya makin semangat, owww
masih ada sisa-sisa bersejarah dan terpapar jelas nama-nama sobat-sobat sesuai
daftar dalam Hp, antara lain "Hai Deby, su ada yang punya ko? Boleh
kenalan?" "I love you, Ningrum. Kutunggu dirimu dalam
tidurku".... "Abang kok lama son kontak?" "Ah hanya kau
yang kurindu, Fred". "Hallo Brigitte, how are you. Do you have
boyfriend?" (Dalam kontak tertulis Brigitte Swiss. Brigitte adalah sahabat
saya. Dia, penulis senior dan dosen di Swiss. Dia salah satu yang menerjemahkan
buku Pramoedya A.Toer ke bahasa Jerman).
Tidak mampu saya bayangkan
jika pesan-pesan itu sampai ke tangan sobat-sobat saya. Saya hanya berteriak,
mengamuk dan semua orang di sekitar saya bingung melihat saya tiba-tiba
marah-marah dan mengomel. Saya tidak jelaskan apapun. Entah apa rasanya dulu
itu... Hahahaha sekarang saya suka membayangkan perasaan yang menerima
"SMS saya" itu.... Tetangga rumah kok minta kenalan? ..." Do you
have boyfriend?"
Ah entah siapa nama para
orang muda berwajah sendu itu.... Mereka telah melukis pelangi dalam hidupku.
Mungkin saat ini mereka adalah penggerak komunitas muda, mungkin juga sudah
menjadi aktivis sosial, guru atau petani atau seseorang yg inspiratif.... Atau
seseorang yang suka menyisirkan rambut istrinya yg tergerai panjang, atau
seseorang yang tak jemu mencabuti uban suaminya sambil sesekali mengetik BBM
untuk sahabat gelapnya ahaaaa....
Kita sedang Menunggu Hujan
Kawan,
Ini panas merobek daun-daun di tepi ladang
Duh keringat kita berbuih
Dan kulit kita mulai perih meradang
Ups... Kita masih punya 17 derajat
Ow bolehlah kita mengoles sun block biar kulit tetap halus mulus
Dan payung asal negeri sebrang menghalau jari matahari
Mereka yang menghujam tanah dan menanam kehidupan
Mereka yang keringatnya busuk
Mereka!
Mereka yang kita bilang orang-orang kecil
Mereka yang kadang kita sebut pahlawan
Mereka yang wajahnya kita pasang di spanduk dan papan propaganda
Mereka bukan siapa-siapa
Mereka hanya tersenyum waktu kita bilang
"Kami bantu kau supaya bisa buat jamban"
"Kami bantu kau supaya panen tahun depan kau bisa sekolahkan anak"
"Kami ajari kau supaya April nanti dompetmu sesak gempita"
"Kami kirim ahli untuk menjahit baju robekmu"
Mereka
tersenyum.
Ah
mata mereka penuh harap.
Kaki menari-nari dan tangan riang bertepuk
Bukan!
Bukan pada bulir-bulir sajak dari mulut kita.
Atau pun madu yang menetes dari lidah kita
Bukan!
Mereka terbahak
Mereka tersenyum di temaram kamar
Tersedu mendekap anaknya minum segelas air untuk menghantar tidur
"Tidurlah...Kelak di Bulan April, Nak...."
Mereka bersorai
Mendengar gemuruh langit berdentam.
Ya, mereka juga sedang menunggu hujan.
“Wer mit den Armen kümmern.. Ich verstehe nicht”
“Sopo seng arep ngurusi gembel”
“Hooo sapa mo pi baurus deng orang miskin aaaaa”
Ah kau bertanya atau berkata?
Bukankah kita sedang menunggu hujan bersama mereka?
Bukankah kita sedang berjubah mereka untuk berkotbah?
Bukankah kita sedang menunggu April waktu bunga liar bermekaran di ladang dan padang?
Lalu kita berpesta bersama mereka
Kawan,
Apakah kita pura-pura sedang menunggu hujan?
Margorejo, 5 November 2014
Ini panas merobek daun-daun di tepi ladang
Duh keringat kita berbuih
Dan kulit kita mulai perih meradang
Ups... Kita masih punya 17 derajat
Ow bolehlah kita mengoles sun block biar kulit tetap halus mulus
Dan payung asal negeri sebrang menghalau jari matahari
Kita
sedang menunggu hujan sambil bincang tentang mereka
Mereka
yang merangkak di bibir bukit Mereka yang menghujam tanah dan menanam kehidupan
Mereka yang keringatnya busuk
Mereka!
Mereka yang kita bilang orang-orang kecil
Mereka yang kadang kita sebut pahlawan
Mereka
yg namanya bikin credit card kita
berjubel dan cicilan mobil lancar
Mereka
yang namanya bikin kita bangga bisa beli peniti di seberang laut dekat rumah Harry PotterMereka yang wajahnya kita pasang di spanduk dan papan propaganda
Mereka bukan siapa-siapa
Mereka hanya tersenyum waktu kita bilang
"Kami bantu kau supaya bisa buat jamban"
"Kami bantu kau supaya panen tahun depan kau bisa sekolahkan anak"
"Kami ajari kau supaya April nanti dompetmu sesak gempita"
"Kami kirim ahli untuk menjahit baju robekmu"
Kaki menari-nari dan tangan riang bertepuk
Bukan!
Bukan pada bulir-bulir sajak dari mulut kita.
Atau pun madu yang menetes dari lidah kita
Bukan!
Mereka terbahak
Mereka tersenyum di temaram kamar
Tersedu mendekap anaknya minum segelas air untuk menghantar tidur
"Tidurlah...Kelak di Bulan April, Nak...."
Mereka
bahagia
Bukan..bukan
karena janji kitaMereka bersorai
Mendengar gemuruh langit berdentam.
Ya, mereka juga sedang menunggu hujan.
Sambil
menunggu hujan, kita mulai menghitung angka-angka sakti
Kita
gelisah mencari koran hari ini, siapa tahu ada cerita tentang kemurahan hati
kita
Kawan,
Mengapa
tiba-tiba aku membaca mulutmu bergumam
"Who care with the poor”“Wer mit den Armen kümmern.. Ich verstehe nicht”
“Sopo seng arep ngurusi gembel”
“Hooo sapa mo pi baurus deng orang miskin aaaaa”
Ah kau bertanya atau berkata?
Bukankah kita sedang menunggu hujan bersama mereka?
Bukankah kita sedang berjubah mereka untuk berkotbah?
Bukankah kita sedang menunggu April waktu bunga liar bermekaran di ladang dan padang?
Lalu kita berpesta bersama mereka
Kawan,
Apakah kita pura-pura sedang menunggu hujan?
Margorejo, 5 November 2014
Senin, 06 Januari 2014
Tentang Gerakan (2014)
Waktu kau
genggam tanganku dan kita berjanji, kau bilang "Kita bergerak!",masih
kau ingat?
Waktu kau
memelukku, sekali lagi ucap "Bergerak untuk rakyat!"
Masih kau
ingat?
Waktu kita
sama-sama belajar tentang rakyat, tentang nilai, tentang sedapnya menenun
mimpi..
Masih kau
ingat?
Waktu aku
lelah, marah, dan putus asa.
Kau bisik
"Jangan menyerah!Kita
bersama
bergerak!"
Masih kau
ingat?
Kita
sama-sama menghujam jahanam di terik kota
Kita
sama-sama melepas ego di sepi desa
Kita
sama-sama terbang melawan badai
Kita
sama-sama gundah di pelupuk subuh
Masih kau
ingat, janji kita?
Mari kita
ucapkan syahadat itu lagi.
Kau tahu
kita tidak butuh rumah mewah untuk berteduh
Kita tidak
butuh televisi 38 inch untuk mengusir rasa bosan
Kita tidak
butuh cemeti untuk mencangkul kebun Kita tak butuh mata yg bergerilya di lelah
kita
Pun kau
sadar
Kita rindu
rahim yang hangat melepas lara dan lelah
Kita rindu
segaris senyum dan pelukan biar kering keringat kita
Kita masih
tetap menenun mimpi khan?
Kita cinta
hati yang putih tanpa rasa curiga
Mari kita
ucapkan sekali lagi
"Kita
bergerak! Bergerak untuk rakyat! Jangan menyerah, kita sama-sama
bergerak!"
Tambolaka,
19 Des 2013
Langganan:
Postingan (Atom)





